Ini adalah blog pribadi saya, berisikan tulisan-tulisan saya yang tentunya terinspirasi dari banyak hal dan kejadian. Jika ada kebaikan di dalamnya tentu datangnya dr Robb kita yg Maha Baik, jika ada kealpaan pasti datangnya dr saya pribadi. Semoga bermanfaat.

Rabu, 25 Januari 2012

Hikmah: Membuka Pintu Syurga

Tidak seperti biasanya, hari itu Ali bin Abi Thalib pulang lebih sore menjelang Ashar. Fatimah binti Rasulullah menyambut kedatangan suaminya yang sehari suntuk mencari rezeki dengan sukacita. Siapa tahu Ali membawa uang lebih banyak karena kebutuhan di rumah makin besar.


Sesudah melepas lelah, Ali berkata kepada Fatimah. "Maaf sayangku, kali ini aku tidak membawa uang sepeser pun." Fatimah menyahut sambil tersenyum, "Memang yang mengatur rezeki tidak duduk di pasar, bukan? Yang memiliki kuasa itu adalah Allah Taala."


"Terima kasih," jawab Ali.
Matanya memberat lantaran istrinya begitu tawakal. Padahal,

Sabtu, 21 Januari 2012

Kunci Keberhasilan Dakwah

(review ta'lim LDK 5 Januari 2012, o/ Ust.Masturi)

Katakanlah: "tidak ada yang kamu tunggu-tunggu bagi kami, kecuali salah satu dari dua kebaikan[646]. Dan Kami menunggu-nunggu bagi kamu bahwa Allah akan menimpakan kepadamu azab (yang besar) dari sisi-Nya. Sebab itu tunggulah, sesungguhnya kami menunggu-nunggu bersamamu." QS> At-Taubah:52

Kajian bulanan kali ini diawali dengan surat At-Taubah ayat 52 di atas. Dalam ayat tersebut tertulis, bahwasannya ada dua hal (dari keberhasilan dakwah) yang senatiasa ditunggu-tunggu oleh para muharik dakwah. Kedua hal tersebut adalah tamkin (yaitu kemenangan dakwah) dan atau mati syahid di jalan dakwah.

Terealisasikannya salah satu dari dua hal tersebut -yang keduanya adalah sama-sama kebaikan- menunjukkan bahwa telah sampainya kita pada tingkat keberhasilan dakwah. Ketika tombak kekuasaan untuk memimpin dan mengarahkan masyarakat telah ada di tangan para da'i, maka disanalah dakwah baru bisa dikatakan telah berhasil. Pilihan kedua adalah kesyahidan. Ketika para da'i telah berjuang sepenuh jiwa raganya untuk kemenangan islam, namun sampai pada titik darah pengahabisan dan kesyahidannya dakwah belum juga mendapatkan kemenangan, maka sesungguhnya ini pun sudah dapat dikatakan dakwahnya telah berhasil.

Untuk dapat mencapai keberhasilan dakwah tersebut, tentunya banyak fase-fase dan proses yang harus dilalui  lebih dulu oleh para muharik dakwah.

Being a Reporter is I am

Iya. Saya adalah orang yang sangat percaya bahwa kesempatan tidak datang hanya sekali. Kesempatan datang berkali-kali, lagi, lagi dan lagi..dan lagi. Tapi,,,hal ini pun lantas tidak bisa kita jadikan kambing hitam untuk kita menyia-nyiakan segala kesempatan yang ada, yang melintas tepat di depan pelupuk mata kita.

Beberapa kali kesempatan untuk 'mencoret' daftar mimpi itu datang. Tak pernah luput diri ini dari mencobanya. Mencoba lalu gagal. Mencoba lalu gagal. Mencoba lalu Ia kabulkan.

Yaps! Alhamdulillah... finally i got it! Oh, Allah,, its like dreams come true..!!!!!!!!

Pada akhirnya saya mendapatkan pekerjaan ini. Reporter. Salah satu pekerjaan yang ada dalam daftar mimpi.

Liputan perdana, 21 Januari 2012 @Istora_KidsFest2012


Mungkin sebagian orang terheran-heran..pun demikian dengan saya. Saya yang belum juga mendapatkan gelar SPd ini..-insyaAllah segera- bagaimana bisa mendapatkan pekerjaan itu dengan mengungguli lawan-lawan yang -mungkin saya pikir- lebih pantas, karena sudah memiliki benda itu (sebut saja ijazah :p ).

Meja kerja baru.. ruang MedCom_PKPU Pancoran


Ya, Allah memang Maha Baik..jangan pernah meragui itu.



tugas kita lah meminta,,,serahkan tugas mengabulkan padaNya.. :)

Minggu, 15 Januari 2012

Delisa Cinta Abi karena Allah

" Delisa cinta Abi karena Allah",

kalimat ini adalah kalimat termanis (menurut saya) di film Hafalan Shalat Delisa. sangat suka.

scene termanis...jadi inget Ayah... >.<


Film sederhana ini, mengajarkan kita tentang ikhlas..yang sangat mudah diucap namun sulit tuk diperbuat..
Betapa ternyata cara Allah memberi pemahaman kepada kita hambaNya sangat beragam. Sering kali kita tak sadar, bahwa ternyata Dia tengah menyapa kita. Mungkin dengan luka, mungkin dengan lara, tak jarang juga dengan ceria.

Belajar dari Delisa. Belajar ikhlas,, belajar lurus,, belajar bertahan dalam hidup.

Jumat, 06 Januari 2012

Calon Suamiku Harus Tinggi!

akhwat 1: "Calon suamiku itu harus tinggi"
akhwat 2: "Aih... kriteria macam apa itu....?"
akhwat 1: "loh,,terserah aku dong.. wong yang mau nikah itu aku..."
akhwat 2: " Oala ukh.. iya iya.. tapi mbok ya jangan gitu lah.. moso patokannya fisikis gitu..? berarti nanti kalo ada ikhwan sholeh yang datang melamar, udah mapan dan tanggungjawab besar,, bakal kamu tolak cuma karna ia kurang tinggi begitu??"
akhwat 1: "Lah iya... syarat ya syarat.. ga mau tau pokonya kudu yang tinggi.titik."
akhwat 2: *geleng-geleng
akhwat 1: *senyum-senyum.

Selasa, 03 Januari 2012

Menyikapi Cinta di Kalangan Aktivis Dakwah

innalillahi,,
sosok mengagumkan itu kembali terngiang dalam memori…
si cerdas, tangguh, bijak dan entah apa…sepertinya aku butuh kata baru untuk menggambarkan ke-luarbiasa-annya…
aku kembali lagi kagum dan kagum, hanya dapat mengaguminya.. astagfirullah…. tipu daya syetan itu ya Allah… astagfirullah,, 
"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik" (Ali-Imran: 14)
Sebagai aktivis dakwah sudah pasti, ujian dalam mengarungi samudra kehidupan dakwah ini tidaklah akan mudah. Beragam tantangan gulungan ombak penghalang akan terus datang. Menerpa perjalanan hingga kelak kita sampai di finishnya. Dengan porak-poranda mungkin, basah kuyub, ya itu sudah pasti. Namun bagaimana pun, itu smua akan dan harus dilalui.

Cinta. Rasanya ini merupakan salah satu ujian berat yang harus dilalui kita para aktivis dakwah. Cinta dalam konteks sebuah rasa 'manusiawi' yang timbul antar dua insan yang berlainan jenis. Layaknya cinta adam dan hawa, cinta yusuf dan zulaekha, cinta baginda Rasulullah dan ibunda siti khodijah. Rasa ini tentunya sangat rentan sekali untuk kita para aktivis dakwah thulabi yang kesehariannya senantiasa dihadapkan pada kenyataan dan keharusan kita berinteraksi intensif antar lawan jenis sesama aktivis dakwah.

Tentunya tidak dapat dipungkiri,
bahwa cinta akan timbul karena terbiasa. Terbiasa beramal jama'i bersama, terbiasa menyelesaikan berbagai persoalan dakwah bersama, terbiasa saling mengingatkan dalam kebaikan bersama, bahkan mungkin terbiasa menangis bersama dalam berbagai muhasabah tiap agenda. Merasai bersama pahit manis, asam-garam kehidupan dakwah kampus atau sekolah dalam kurun waktu yang tidak bisa dibilang sebentar. Tentu benih-benih itu tanpa ditanam dan disiram pun akan tetap bertumbuh.

Tidak ada yang salah atas itu semua. Bukan hal yang salah jika kita jatuh cinta. Bahwasannya aktivis dakwah pun juga hanya manusia biasa bukan?. Maka jangan salahkan cinta, pun jangan pula terbebani dengannya, apalagi sampai berusaha untuk membunuhnya. Karena sejatinya dia adalah fitrah. Dan fitrah cinta ini adalah persoalan bagaimana kita dalam menyikapinya.

Beberapa baris kalimat pembuka di atas sangat mungkin pernah terbesit dalam hati-hati kita. Ketika melihat sosok aktivis militan yang pesona keimanannya begitu memancar. Kesholehan pribadinya begitu nampak. Pemikiran briliannya selalu menyempurnakan kerja-kerja dakwah. Ditambah aura kepemimpinannya yang bijaksana lagi tegas. Salahkah jika muncul rasa itu? Sekali lagi tidak. Bukan perasaan itu yang salah, melainkan pilihan langkah kita yang sering kali salah dalam menyikapinya.

Lantas apa dan bagaimana cara kita untuk menyikapinya?
Seorang ustad pada siarannya di salah satu radio dakwah pernah menyampaikan, bahwasannya benar, cinta datang dari mata turun ke hati, dari pendengaran turun ke hati. Maka jagalah keduanya ini. Jagalah dengan sungguh-sungguh seluruh indera yang dikaruniakan olehNya. Menjaganya dengan sebenar-benar penjagaan dan memohon pada pemiliknya dengan segala kerendahan dan penghambaan untuk senantiasa menjaga hati kita tetap pada koridor yang diridhoi-Nya. Menjaga pandangan untuk menjaga hati (ghodul bashar ilaa ghodul qulub). Maka hal penting pertama adalah ini, jangan pernah sepelekan hal ini.

Kemudian sadarilah. Bersegeralah 'menyadarkan diri', bahwasannya semua rasa yang timbul itu adalah fana, maya, semu. Rasa itu timbul oleh karena adanya sebab. Maka seiring dengan hilangnya sebab-sebab yang mengharuskan kebersamaan dan ke-terbiasa-an tersebut, maka akan menyertai pula hilangnya perasaan yang pernah bertumbuh itu. Cepat atau lambat pun rasa itu akan berkurang lalu hilang.

Lalu yakinlah. Bahwasanya jelas janji-Nya dalam Al-Quran. Telah Ia siapkan laki-laki baik untuk perempuan-perempuan baik, pun sebaliknya. Jika dalam al-huda itu pun tlah jelas tertulis, maka masih adakah alasan kita untuk meragu??.

Mari sibukkan diri dalam perbaikan. Meningkatkan kualitas diri dan berusaha memantaskan diri untuk mendapatkan satu yang terbaik yang telah disiapkan oleh-Nya untuk masing-masing dari kita. Jangan biarkan tipu daya syetan itu memonopoli hati dan pikiran kita. Menjerembabkan diri kita ke jurang nista.

Wallahu'alam bishshowab,

lihat di dakwatuna

Senin, 02 Januari 2012

Keep on Writing!

Pagi ini seperti pagi-pagi biasanya..ba’da sholat shubuh dan tilawah kunyalakan laptop butut kesayanganku. Kemudian memasang modem dan seperti biasa mulai berselancar di dunia maya. Mengecek email adalah hal rutin pertama yang aku lakukan.
Ah masih belum ada… itu lagi yang terbesit di hati. Mungkin memang tulisanku belum layak muat. Hfft…sabar, sabar…

Lantas aku pun mulai kembali asik berselancar lagi. Membaca berita-berita hari ini di Koran online langgananku, mengupdate blog pribadi, dan lain-lain. Sedang asik berselancar di dunia maya, tiba-tiba handphone-ku pun bergetar,