Ini adalah blog pribadi saya, berisikan tulisan-tulisan saya yang tentunya terinspirasi dari banyak hal dan kejadian. Jika ada kebaikan di dalamnya tentu datangnya dr Robb kita yg Maha Baik, jika ada kealpaan pasti datangnya dr saya pribadi. Semoga bermanfaat.

Rabu, 30 November 2011

Pasar Tradisional: Bertahan Dalam Kegelisahan

Berdasarkan data Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI), di seluruh Indonesia terdapat tak kurang dari 13.450 pasar tradisional dengan 12,6 juta pedagang. Nilai aset keseluruhan sebesar kurang lebih Rp 65 triliun. Terbayang berapa banyak  pedagang menengah ke bawah, dan juga rakyat menengah ke bawah yang menggantungkan hidupnya pada perputaran uang disini.

Data dari Asosiasi Pedagang Pasar Tradisional Seluruh Indonesia (APPSI) pada tahun 2005 seperti dikutip dari website Kementerian Koperasi dan UKM menyebutkan bahwa sekitar 400 toko di pasar tradisional harus tutup usaha setiap tahunnya. Jumlah ini sangat mungkin
akan terus bertambah seiring pesatnya pertumbuhan pasar modern di berbagai daerah.

Ya. Pasar tradisional kini diambang krisis keberadaan karena  terus tergeser kedudukannya oleh mall-mall megah, hypermart, supermarket-supermarket, sampai minimarket yang jumlahnya sudah tak terhitung lagi memenuhi jalan-jalan di hampir seluruh bagian daerah di Indonesia.
Jalan raya Ciracas, di pinggiran timur kota Jakarta, disepanjang jalan menuju pasar tradisional yang ada di daerah ini, ada tak kurang dari 5 minimarket semisal Alfamart, Indomart sampai dengan Alfa midi, serta mini market lainnya yang tidak begitu ternama. Dapat dibayangkan, betapa konsumen sangat dimanjakan dengan kemudahan akan keberadaan pasar modern yang begitu dekat dengan tempat tinggal mereka. Segala nilai plus seperti kenyamanan, keamanan, permainan harga yang menggoda, semua pastinya menjadi daya tarik tersendiri bagi para konsumen dari berbagai golongan untuk beralih dari pasar-pasar tradisional menuju pasar modern.

Namun terlepas dari itu semua, pasar tradisional saat ini tetap menjadi pilihan utama sebagian konsumen. Terlebih bagi mereka yang mengutamakan harga miring dan menyukai proses tawar-menawar yang pastinya tentu saja hanya dapat ditemukan di pasar tradisional saja. Dalam sebuah proses tawar-menawar tercipta interaksi sosial yang lekat, rasa kebersamaan yang kental dan komunikasi efektif antar penjual dan pembeli yang diharapkan akan berujung dengan sebuah kesepakatan yang menguntungkan bagi kedua belah pihak. Tentunya hal-hal positif semacam ini yang tidak mungkin dapat dijumpai di pasar-pasar modern sekitar kita, yang sudah mematok harga baku, dan sangat minim interaksi sosialnya.
Pasar-pasar tradisional di beberapa daerah seperti di Ciracas, Jakarta Timur pun kini sudah mulai diperhatikan oleh pemerintah. Bangunan sudah diperbaiki, sistem parkir sudah lebih diperhatikan, kebersihan mulai dijaga dan display atau tata letak pertokoan juga sudah ditata kembali. Semua kenyamanan tersebut adalah bagian dari upaya mempertahankan sebuah aset penting yang menjadi tombak perekonomian rakyat kecil menengah kebawah.

Jalan raya disekitar pasar tradisional di pagi dan sore hari masih selalu mengalami kepadatan kendaraan. Hal ini menunjukan masih adanya existensi pasar tradisional tersebut dikalangan konsumen Indonesia. Walaupun tetap tidak dapat dipungkiri jumlah konsumennya kian menurun di setiap tahunnya.
Pasar tradisional dengan segala kekurangan dan kelebihannya wajib kita jaga dan lestarikan. Aset negara yang pro rakyat kecil ini harusnya mendapat perhatian lebih dari pemerintah, pemda khususnya yang menaungi dan bertanggung jawab atas keberadaan pasar tradisional. Segala hal pastinya butuh sebuah aturan main yang rapih dan mengikat. Tak terkecuali  dengan modernisasi di kalangan perekonomian pasar bebas ini. Mari menangkan hati pedagang-pedagang kecil yang terus mengais rizki dan mempertahankan hidupnya dari pasar-pasar tradisional ini.

dimuat di koran sindo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar