Ini adalah blog pribadi saya, berisikan tulisan-tulisan saya yang tentunya terinspirasi dari banyak hal dan kejadian. Jika ada kebaikan di dalamnya tentu datangnya dr Robb kita yg Maha Baik, jika ada kealpaan pasti datangnya dr saya pribadi. Semoga bermanfaat.

Rabu, 30 November 2011

Hakikat Kebahagiaan Sejati


Judul                    : Ayahku (bukan) Pembohong
Penulis                 :
Tere Liye
Penerbit               :
PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan               :
I, April 2011
Tebal                    :
304 hlm; 20 cm
Harga                   : -

Masih ingatkah ketika masa kanak-kanak dulu ayah atau ibu kita setiap malam membacakan dongeng pengantar tidur untuk kita? Berbagai cerita mulai dari yang fiktif sampai dengan yang nyata seperti pengalaman-pengalaman hidup sarat makna sering kali mereka bagikan kepada kita anak-anaknya.  Sosok orang tua yang membangun karakter anak-anaknya dengan kisah-kisah pembangun jiwa. Begitu pula yang ada pada novel Ayahku (bukan) Pembohong karya Tere Liye ini.

Novel ini menceritakan tentang seorang anak lelaki bernama Dam, yang sejak kecil dibesarkan dengan cerita-cerita sederhana pembangun jiwa oleh ayahnya. Berbagai cerita mulai dari suku penguasa angin, apel emas lembah Bukhara yang hanya berbuah 10 tahun sekali yang jika kita mengunyah apel tersebut maka akan melapangkan hati yang sempit dan menjernihkan pikiran yang kotor, cerita si raja tidur, hingga cerita tentang Sang kapten, el capitano el prince, pesepak bola ulung pada masanya.

Maka Dam pun tumbuh besar dengan kepribadian yang terwarnai oleh setiap sisi kebaikan dalam cerita-cerita ayahnya tersebut. Terutama cerita tentang Sang kapten, yang sejak kecil adalah seorang bocah gigih yang tidak pernah berhenti berlatih keras untuk mencapai cita-citanya walau segala keterbatasan selalu  mempersulitnya.

Namun seiring berjalannya waktu dan bertambah dewasanya Dam, maka  kepercayaan Dam pada cerita  sang ayah pun mulai goyah. Dam pun mulai ragu pada cerita-cerita ayahnya tersebut apakah nyata

atau hanya sekedar dongeng semata. Apakah mungkin ayahnya yang terkenal jujur itu berbohong padanya?

Rasa tidak percaya Dam pun berubah menjadi  kebencian ketika Sang ayah membohongi dirinya tentang penyakit yang selama ini diderita ibunya. Ayah hanya mengatakan bahwa ibu akan segera sembuh seperti sedia kala. Tapi nyatanya justru sebaliknya. Kesehatan ibu kian parah. Ayah Dam tidak memberi perawatan intensif atas penyakit ibu hanya karena perkataan dari si Raja tidur, tokoh yang dianggap fiktif oleh Dam . Bagaimana mungkin ayahnya percaya pada tokoh yang dianggap Dam khayalan itu dan menjadikan kehidupan ibu sebagai taruhan?

Tahun demi tahun pun berlalu, namun Dam tetap tidak dapat memaafkan ayahnya atas kepergian ibu. Bahkan ketika Dam sudah berkeluarga dengan Taani -teman semasa kecilnya- dan memiliki 2 orang anak ,Zas dan Qon. Dam menolak untuk membawa ayahnya tinggal dengannya. Dia khawatir jika ayahnya tinggal bersamanya, dan dekat dengan anak-anaknya, maka ayah akan menceritakan kisah-kisah yang sama yang dulu sering diceritakan padanya kepada Zas dan Qon.

Pada akhirnya, atas desakan Taani dan anak-anak, maka ayah pun tinggal bersama keluarga Dam. Namun masalah demi masalah pun kembali muncul hingga pada puncaknya, Dam mengusir sang Ayah.

Penyesalan itu pun hadir ketika didapati Ayahnya telah meninggal dunia. Dan tahukah? Sungguh hal yang menakjubkan bahwasannya di pemakaman ayahnya, begitu banyak orang yang turut berduka cita berdatangan. Mulai dari sahabat-sahabat, kerabat, tetangga, bahkan sampai dengan gerombolan  suku penguasa angin hingga Sang Kapten pun turut hadir. Kesemuanya itu membuktikan bahwasannya selama ini ayah Dam memang bukan pembohong.

Satu lagi karya sederhana namun sangat memukau dari Tere Liye ini, berisikan kalimat kalimat sederhana yang sarat makna. Selalu ada paragraf yang menjadi favorite para pembaca. Inilah paragraph favorit saya:

 “Itulah hakikat sejati kebahagiaan hidup, Dam.  Hakikat itu berasal dari hati kau sendiri.  Bagaimana kau membersihkan dan melapangkan hati, bertahun-tahun belajar membuat hati lebih lapang, lebih dalam, dan lebih bersih.  Kita tidak akan pernah merasakan kebahagiaan sejati dari kebahagiaan yang datang dari luar hati kita.  Hadiah mendadak, kabar baik, keberuntungan, harta benda yang datang, pangkat, jabatan, semua itu tidak hakiki.  Itu datang dari luar.  Saat semua itu hilang, dengan cepat hilang pula kebahagiaan.  Sebaliknya rasa sedih, kehilangan, kabar buruk, nasib buruk, itu semua juga datang dari luar.  Saat semua itu datang dan hati kau dangkal, hati kau seketika keruh berkepanjangan.  (Halaman: 291-292)

Alur cerita maju mundur yang digunakan dalam novel ini, seakan membawa pembaca untuk turut berpetualang dari masa ke masa, hingga akhirnya terungkap setiap detail permasalahan yang ada.

Banyak sekali hikmah yang dapat kita petik dari novel ini. Two thumbs up untuk Tere Liye atas karya hebatnya.


_gagal muat :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar